Misi Pemuda

AtsarFeurs Saint-Etienne, France, 22 Agustus 2011

Muhammad Elvandi

Setelah Agustus Ramadhan ini, teriak nurani membuncah kembali. Menyeru pemuda-pemuda negeri yang berselimut dan berdiam diri. Untuk berkata seperti mereka di tahun 45 berkata “Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji, aku sudah cukup lama dengan bicaramu, dipanggang diatas apimu, digarami lautmu… Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu…“ kata Chairil Anwar.

Karena pemuda adalah nafas negeri ini. Sebanyak dan sekuat apa mereka sepanjang itu umur negeri kita. Karena pemuda kata Hasan al-Banna ‘‘di setiap umat adalah rahasia kebangkitannya; di setiap kebangkitan mereka adalah rahasia kekuatannya; dan di setiap ideologi mereka adalah para pengusung panjinya”.

Mereka mungkin masih sangat muda. Mungkin dibawah usia 40, atau 30, atau 25, tapi perubahan yang mereka ciptakan melebihi abad hidupnya, atau tercatat di memori sejarah bumi ini, atau bahkan terukir di dinding istana langit yang abadi.

Usia 24 bagi Muhammad al-Fâtih adalah realisasi mimpi delapan abad umat Islam membebaskan Konstatinopel. Reruntuhan Daulah Umawiyyah kembali berdiri menjulang di Andalus oleh pemuda 25 tahun, Abdurrahman ad-Dâkhil. Dua puluh dua tahun bagi Hârûn ar-Rasyîd adalah awal pemerintahan Dinasti Islam terbesar sepanjang sejarah hingga mencapai puncaknya, Daulah Abbasiyyah di Baghdad.  Sembilan belas tahun bagi Usamah bin Zaid adalah kematangan kepemimpinan untuk mengomandoi pasukan senior sahabat melawan Imperium raksasa Roma. Dan sepuluh tahunnya Ali bin Abi Thâlib adalah kesiapan menjadi da’i khusus Islam yang membawa misi super rahasia di awal fase dakwah Mekkah. Dan 25 tahun seorang Jendral Sudirman, dalam sakit parahnya di hutan tetap membakar energi perlawanan di seluruh tanah air hingga melahirkan cikal bakal TNI.

Mereka lahir seperti pemuda zaman ini lahir, sama-sama menjalani durasi hidup yang belum lama dan mungkin tumbuh dalam situasi yang tidak sebaik sekarang, dengan segudang fasilitas hidup, dan setumpuk sarana belajar. Tapi mata mereka melihat dunia dengan pandangan yang lain. Sehingga saat Mu’awiyyah kecil ditanya mengapa tidak bermain-main seperti anak lainnya ia menjawab “aku tidak dilahirkan untuk itu”.

Ada misi besar yang selalu memanaskan hati mereka untuk bergerak. Bahwa kerja-kerja sebesar mitos yang dibaca di buku-buku sejarah dan pahlawan selalu menginspirasi mereka. Bahwa mengumpulkan ratusan ribu hadist shahih Nabi itu sesuatu yang mungkin di benak Imam Bukhari muda dan merumuskan ilmu baru, Ushul Fiqh untuk memahami Fiqh menghidupkan adrenalin Imam Syafi’i muda untuk ekstra keras belajar pada Imam Malik.

Misi-misi besar yang oleh sebagian besar orang dianggap mustahil menjadi hobi mereka. Dan semakin mereka gagal, semakin mereka tertantang mencoba sembari berkata kepada dirinya, tugas besar itu milikku, tangan ini yang akan menuntaskan. Mereka yakin bahwa kerja-kerja besar itu mungkin mereka lakukan.

Dari batu fondasi keyakinan terhadap misi-misi besar itulah menjulang bangunan kepribadian mereka yang seakan mustahil dibaca pemuda zaman ini. Seperti kekuatan belajar Abû Ayyûb al-Anshâri yang berjalan dari Madinah ke Mesir untuk mencatat satu hadist untuk kemudian langsung kembali ke Madinah tanpa turun dari untanya. Atau Ibnu Rusyd yang sejak muda hingga matinya, di malam-malamnya matanya tidak pernah lepas dari buku, atau Bukhari yang dalam semalam perlu menghabiskan 20 lilin untuk belajarnya.

Dari keyakinan itu juga lahir keterarahan hidup. Karena mimpi-mimpi yang dirangkai terasa mungkin di dalam pikiran maka semua panca indera menterjemahkan kemungkinan itu. Jadilah mata dan telinganya fungsional di jalan idealismenya, lidah dan pikirannya produktif untuk berkarya, dan hatinya selalu menyala menerangi langkah masa depannya. Sehingga saat semua siswa SMA itu hampir lulus Sang Guru memberi tugas mengarang cita-cita. Dan hanya Hasan al-Banna yang mengagetkan sekolahannya saat menulis mimpi terbesarnya adalah “untuk kejayaan agamaku, negeraku dan negeri-negeri Islam”, dan lebih mengagetkan lagi seluruh dunia karena pemuda yang syahid di usia 43 tahun itu telah merealisasikan mimpinya dan menanamkan ruh kebangkitan Islam di puluhan negeri Muslim.

Misi-misi besar itulah yang sekarang sedang mengantri. Sudah lama mereka menanti para pemuda yang akan menjemputnya. Kerja mempersiapkan kepemimpinan nasional yang selama ini mandul, kerja menata sistem negara yang boros, reformasi birokrasi yang rumit, HAM, solusi kemiskinan, optimalisasi sumber daya negara yang sering dicuri, perlindungan warga yang terabaikan di luar negeri, buruh, reformasi pendidikan, peningkatan kesehatan, bahkan solidaritas revolusi negera-negara Muslim, dan kemerdekaan Palestina.

Terlalu lama tema-tema tersebut tertutup rapat dalam ensiklopedi perpustakaan, atau dibahas di meja-meja rapat pejabat pemerintahan. Kurangilah beban orang tua yang sejak dulu berberat bahu. Karena saat ini, pemuda yang akan kembali memegang kendali. Kerja-kerja besar itu adalah proyek kami sekarang ini. Proyek pemuda. Karena kami tidak tahan lagi melihat saudara sendiri menangis kembali. Cukup sudah rakyat menunggu sejak dahulu. Tak ingin lagi pertanyan-pertanyaan kami ‘‘membentur meja kekuasaan yang macet, dan papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan’’ seperti kata Rendra.

Karena itulah kita para pemuda hadir, karena dalam Sajak Sebatang Lisongnya Rendra melanjutkan ‘‘kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata’’.

Inilah misi-misi kita para pemuda. Dimana lagi waktu untuk berleha dan berfikir hal-hal kecil? Masih adakah waktu lepas berbincang tanpa batas? atau mengumbar naluri muda di mall-mall, cafe dan taman kota?

Pemuda pemikul misi-misi besar itu bukan mitos, dan pernah ada. Tangan pemuda zaman inilah yang akan membuatnya kembali ada atau menjadi sekedar legenda. Tidak ada yang membedakan antara Muhammad al-Fâtih,

Abdurrahman ad-Dâkhil, Hârûn ar-Rasyîd, Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thâlib, Jendral Sudirman dan kita pemuda zaman ini. Kecuali firman Allah bahwa ‘‘mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan-Nya, sehingga Kami tambah mereka petunjuk’’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Berminat Iklan di Al – Intima’ ?

Silahkan kunjungi link ini atau hubungi kontak dibawah ini