Mewaspadai Bahaya Laten Dha’fut Tarbiyah

globe-library_1024x768Misi Dakwah dan Tarbiyah

Misi Islam adalah membebaskan manusia dari segala bentuk pengabdian kepada makhluk, kemudian menjadi pengabdi Allah SWT semata yang diwujudkan dengan tunduk kepada sistem Islam dan syariat Allah, sehingga seluruh manusia bernaung di bawah panji Islam dan kepemimpinan dipegang oleh umat Islam demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu misi utama dakwah adalah risalatut taghyir (melakukan perubahan). Mengubah kehidupan manusia sehingga sejalan dengan tuntutan Islam, baik pada tingkatan individu maupun tingkatan kolektif. Dengan begitu akan terwujud tatanan hayatun thayyibah (kehidupan yang baik).

Upaya mewujudkan perubahan tersebut, pada pokoknya bersandar pada perubahan unsur manusianya. Manusialah unsur inti kehidupan. Oleh karena itu, dakwah Islam pada misinya yang pokok adalah bagaimana membentuk manusia-manusia yang berkepribadian Islam. Inilah yang dikenal sebagai tarbiyah Islamiyah, manhaj Rabbani yang menjadi jalan para rasul dalam mencetak bukan saja pionir dakwah, tetapi juga masyarakat baru Islam.

Gerakan dakwah kita menempatkan tarbiyah sebagai munthalaq (titik tolak) semua aktivitas dakwah, dan menempatkan SDM kader dakwah sebagai rashidul harakah (aset utama gerakan). Kader merupakan output utama dari aktivitas tarbiyah. Pembesaran kekuatan inti gerakan dakwah ini terletak pada pertumbuhan kader-kadernya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Selain bentuk tarbiyah yang berorientasi pada pencetakan kader (tarbiyah nukhbawiyah), kita pun melakukan tarbiyah jamahiriyah, yaitu proses penyadaran dan pembinaan keislaman masyarakat secara umum dan masif. Karena dari sudut pandang siyasatu dakwah, membangun dan terus memperbesar dukungan qaidah ijtimaiyyah (basis sosial) menjadi sebuah keniscayaan. Dakwah membutuhkan masyarakat yang secara sadar dan faham memberikan loyalitasnya kepada Islam dan dakwah Islam. Selain itu, tarbiyah jamahiriyyah juga diharapkan dapat menyumbangkan bahan baku bagi tarbiyah nukhbawiyah.

Mihwar Dakwah dan Kualifikasi Kader

Dakwah kita telah melewati berbagai mihwar, mulai dari mihwar tanzhimi dengan fokus pembentukan syakhshiyah Islamiyah dan syakhshiyah da’iyah, lalu memasuki mihwar sya’bi dengan tambahan fokus membentuk syakhshiyah ijtima’iyyah, lalu memasuki mihwar muassasi dengan tambahan fokus pembentukan syakhshiyah yang berkafa’ah sesuai dengan institusi-institusi yang akan diisi atau diwarnai oleh para kader dakwah.

Saat ini kita berada di ambang mihwar daulah. Pada mihwar yang akan dimasuki oleh para kader dakwah ini diperlukan kualifikasi kader yang tidak meninggalkan kualifikasi lama, namun antisipatif terhadap mihwar yang baru. Oleh karena itu diperlukan kualifikasi kader sebagai berikut:

  1. Rijalud-da’wah (para aktivis dakwah)
  2. Rijalul-ummah (para pelayan dan pemimpin umat)
  3. Rijalud-daulah (para kader yang memiliki kapasitas untuk mengelola dan memimpin negara) dengan segala institusinya.

Gelorakan Semangat Tarbiyah!

Kedudukan tarbiyah yang sangat strategis seperti itu hendaknya menyadarkan kita bahwa keberlangsungan program tarbiyah wajib dijaga dengan penuh kedisiplinan. Elemen tarbiyah dalam struktur dakwah harus mengawal aktivitas ini dan memastikan bahwa seluruh elemen dibawahnya mampu melaksanakan manhaj tarbiyah dengan penuh disiplin. Indhibat bil Manhaj!

Lemahnya aktivitas tarbiyah sudah dipastikan akan menimbulkan berbagai penyakit dan kelemahan. Ibarat tanaman yang tak pernah disiram atau dipupuk secara tepat dan teratur, gerakan dakwah akan mudah terserang berbagai penyakit, melemah, dan akhirnya mati, kemudian tidak memberi manfaat sama sekali kepada umat. Bahkan menjadi sampah yang menodai keindahan dan kemolekan Islam. Naudzubillah min dzalik…

Ustadz Fathi Yakan dalam bukunya Ihdzaruu Al-Aids Al-Haraki menyebutkan bahwa salah satu penyebab hancurnya berbagai kelompok Islam adalah dha’fut tarbiyah (lemahnya tarbiyah). Munculnya fenomena ini menurutnya dapat disebabkan beberapa faktor: (1) Kekurangan dalam manhaj tarbawi, (2) Lemahnya kapasitas murabbi, (3) Rapuhnya strategi atau pincangnya langkah pengaturan kerja, misalnya satu bidang kerja mendapatkan porsi perhatian lebih banyak dari bidang yang lain, (4) Terseretnya gerakan Islam ke dalam pertikaian yang tidak membawa faedah apa pun, (5) Terkurasnya potensi gerakan Islam dalam sejumlah proyek yang dari segi urgensi maupun skala prioritasnya bukan termasuk urutan pertama.

Akibat dari Dha’fut Tarbiyah  

Diantara akibat lemahnya tarbiyah adalah: (1) Munculnya berbagai penyakit di dalam tubuh harakah, (2) Menurunnya kualitas kader, (3) Lunturnya akhlak islami, (4) Melemahnya kekokohan ideologi, (5) Penyimpangan orientasi atau lupa terhadap tujuan dan cita-cita.

Penjelasannya sebagai berikut:

Munculnya berbagai penyakit di dalam tubuh harakah

Ustadz Fathi Yakan menyatakan bahwa dha’fut tarbawi itu merupakan kepincangan yang secara perlahan akan melahirkan penyakit dan problema dalam tubuh harakah Islam. Ia membuka peluang bagi musuh untuk menyalakan api fitnah. Dialah peluang emas bagi tumbuhnya penyakit, yang akhirnya melahirkan goncangan serta kesemrawutan dalam kehidupan personal, jama’ah, maupun harakah, seperti: ghibah, namimah, suka mengintai aib, kritik tanpa membangun, tasykik, gengsi meminta maaf, gengsi tabayyun, ta’ashub dengan pendapat sendiri, angkuh dan sombong, suka berdebat, hobi menyulut perbedaan pendapat menjadi perselisihan pribadi, dan kerusakan-kerusakan lainnya.

Bahkan kata beliau, dha’fut tarbawi akan mengancam kualitas takwa dan sifat wara’. Karena hal itu mengakibatkan lemahnya kekuatan nilai syariat dalam membentuk akhlak, aktivitas, ucapan, dan perangai pada umumnya. Hal ini mengakibatkan terjerumusnya harakah dalam perangkap syaithan dan nafsu amarah yang akhirnya merusak pribadi dan jama’ah. Lemahnya takwa dan sifat wara’ merupakan pintu bagi sikap menganggap enteng perbuatan dosa serta mempermudah urusan nafsu. Hal itu bisa menjerumuskan diri ke dalam perbuatan dosa besar yang merusak, yang dikemas dengan berbagai slogan dan alasan, kesemuanya itu merupakan hasil pengaburan iblis.

Menurunnya kualitas kader dakwah

Dha’fut tarbiyah juga berpengaruh pada menurunnya kualitas kader. Padahal pertumbuhan kualitas sangatlah dibutuhkan seiring dengan tantangan medan dakwah yang semakin berat dari waktu ke waktu. Ustadz Mahfudz Siddiq menegaskan bahwa kualitas kader dalam kehidupan dakwah harus senantiasa mengikuti kebutuhan marhaliah dan mihwar dakwah. Semakin meningkat marhalah dan semakin meluas mihwar dakwah, maka kualitas kader pun dituntut untuk semakin berkembang. Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan muncul bencana bagi dakwah.

Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu istiqamah di dalam mengikuti irama perjalanan dakwah yang dinamis. Ia akan tersibukkan oleh problem-problem personal dan terjauhkan dari aktifitas dakwah.

Kedua, munculnya sebagian kader yang menginginkan kehidupan dakwah sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi enggan ketika perjalanan dakwah ini begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang banyak. Mereka cenderung menjadi orang yang ingin ‘hidup dari dakwah’ dan bukan ‘menghidupi dakwah’.

Ketiga, munculnya ketidakmampuan di dalam menjalankan misi dakwah di tengah-tengah masyarakat. Ini karena daya dukung dan daya topang yang dimiliki kader semacam ini tidak seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan dakwah yang semakin terbuka.

Keempat, akibat dari ketiga hal ini, dakwah menjadi disibukkan oleh problematika internal yang menguras energy dakwah, sehingga tidak mampu menjalankan misi-misi perubahan secara efektif. Padahal misi utama dakwah adalah melakukan perubahan dan perbaikan secara nyata.

Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan antara harapan besar masyarakat dengan apa yang bisa diberikan oleh dakwah. Lalu terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi. Krisis ini bisa jadi diperamai oleh sejumlah kasus-kasus negative yang muncul ke permukaan.

Keenam, pada saat semacam itulah, akan muncul pikiran di sebagian kader yang lemah, untuk menarik kembali dakwah ke belakang. Mereka merasa lebih nyaman ketika dakwah ini belum berhadapan langsung dengan masyarakat secara terbuka.

Inilah bencana yang bisa terjadi kepada dakwah manakala aspek kualitas diabaikan.

Lunturnya akhlak islami

Lemahnya tarbiyah berarti melemahnya ziyadah (penambahan atau pembekalan), nas’ah (pertumbuhan), taghdiyyah (pemberian gizi), ri’ayah (pemeliharaan), dan muhafadzoh (penjagaan) terhadap iman, ilmu, dan amal. Gejalanya terlihat dari lunturnya akhlak.

Munculnya fenomena-fenomena kejanggalan akhlak atau suluk di kalangan aktivis dakwah selain karena faktor-faktor manusiawi, sesungguhnya berawal juga dari lemahnya tarbiyah. Sebagai contoh, ada kader yang terlalu berlebih-lebihan dalam hal yang mubah sehingga tergiring kepada hal-hal yang syubhat, sikap wara’, iffah, dan menjaga muru’ah dalam beberapa hal melemah; hijab menjadi semakin longgar; dan lain sebagainya.

Kejanggalan-kejanggalan akhlak tersebut insya Allah akan dapat diminimalisir jika tarbiyah berjalan dengan baik. Kader dakwah hendaknya mampu mengendalikan dirinya agar selalu berpegang teguh pada aqidah, akhlak, dan syariah Islam. Namun untuk itu bukan berarti ia harus menjadi orang kaku atau aneh di tengah-tengah umat. Akan tetapi hendaknya ia mampu menempatkan dirinya secara proporsional tanpa harus melanggar aqidah, akhlak, dan syariah Islam.

Melemahnya kekokohan ideologi

Tarbiyah adalah pewarisan ide. Tentu saja bukan sekedar proses pemindahan ‘isi kepala’ murabbi ke dalam kepala mutarabbi, tapi lebih jauh dari itu tarbiyah sesungguhnya adalah proses menghidupkan ruh, akal, dan jasad agar selalu bergerak mewujudkan cita-cita dan idealisme dalam kehidupan.

Lemahnya tarbiyah berarti lemahnya proses pewarisan ide; mandegnya proses kebangkitan ruh, akal, dan jasad dengan shibghah Islam. Dalam situasi seperti itu virus-virus aqidah dan fikrah beserta polutan-polutan ideologi menyimpang tentu sangat mudah menggerogoti kefitrahan ruh, akal, dan jasad.

Penyimpangan orientasi atau lupa terhadap tujuan dan cita-cita

Dalam kondisi ruh yang berpenyakit, kualitas diri yang rendah, lunturnya akhlak, dan melemahnya kekokohan ideologi, janganlah heran jika pada akhirnya seorang kader dakwah menjadi lupa pada orientasi perjuangannya. Obsesinya berubah, kebanggaannya berubah, cita-citanya merendah, dan geraknya pun jadi semakin lamban. Akhirnya lama-kelamaan ia mulai mundur teratur, pamit dari gelanggang dakwah, kemudian asyik dengan dunia barunya. Kini ia telah lupa dengan cita-cita raksasa yang pernah bersemayam di dalam jiwanya.

Lupa pada cita-cita dakwah untuk mewujudkan kehidupan islami yang menjadi rahmatan lil ‘alamin, yaitu kehidupan yang merujuk kepada nilai-nilai alqur’an dan sunnah; cita-cita mewujudkan masyarakat yang islami, yaitu masyarakat yang berafiliasi secara ideologi kepada Islam; melakukan semua fardhu ‘ain di dalam keseharian mereka; dan menjaga diri dari dosa-dosa besar.

Lupa pada cita-cita politik untuk mengaktualisasikan ajaran Islam secara maksimal. Mewujudkan rasa aman; melaksanakan undang-undang, meratakan pendidikan; menyiapkan kekuatan; memelihara kesehatan; menjaga kepentingan dan fasilitas umum; menjaga sumber daya alam dan mengelola kekayaan negara; mengokohkan moralitas; dan menebarkan dakwah.

Lupa pada cita-cita peradaban, yakni menegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. “Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah”. (QS. Al-Baqarah, 2: 193).

Kini ia telah lupa kepada janji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Amru bin Ash mencatat hadits dari Rasulullah yang ditanya, “Kota mana yang akan lebih dahulu dibebaskan Islam, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Herakliuslah (Konstantinopel / Istambul) yang akan dibebaskan terlebih dahulu!” . Janji pembebasan yang pertama telah terbukti. Saat ini kita masih menunggu janji pembebasan yang kedua.

Tunggu Apa Lagi?

Mari segera tekadkan dalam diri untuk meningkatkan kualitas tarbiyah kita. Jangan jadikan dha’fut tarbiyah menjadi bahaya laten bagi gerakan dakwah. Bukankah kita ingin menjadi golongan rabbaniyyin?

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79)

Wallahu a’lam…

 

Berminat Iklan di Al – Intima’ ?

Silahkan kunjungi link ini atau hubungi kontak dibawah ini